
PUISI : IBU PERTIWI PUN MENANGIS.
Duka menyelimuti ibu pertiwi , yang diterbangkan tiupan angin padaku .... Sebagai kabar dari sebuah negeri terluka, banyak kanak kanak yang berhenti sekolah... Sungguh perutpun tak bisa dibiarkan lapar, semakin tinggi harga harga kebutuhan pokok... Mengapa petaka selalu silih berganti menimpa rumah saudara saudara kami.... Hanya karena kebijakan kebijakan kompor minyak diganti dengan kompor gas LPG... Oh Ibu pertiwi apakah semua kebijakan ini semata hanya untuk kepentingan.... Bahkan Tarif TDL pun seiring mengikuti kebijakan kenaikan... Semuanya itu tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh rakyat... Sungguh tragis dan malangnya penderitaan rakyat ini... Kemanakah rakyat untuk melampiaskan kekesalannya... Yang ada hanya lah diam tanpa seribu kata...
PUISI : BENANG KUSUT
Mana ujung mana pangkal, berputar berbelit hingga tak karuan... Omongan Omongan selalu melantur, membuat hati nurani membentur karang... Berdarah-darah kepalaku, pusing tujuh keliling melihat penderitaan rakat dimana mana... Di mana kah Rasa Keberanian untuk membelanya? Menantang sisa REZIM TIRANI yang dihembuskan oleh angin semilir... Hanya ada gerutuan yang terlontar, tapi hanya didiamkan.... Upeti dipersembahkan melalui pajak... Raja di raja selalu meminta tumbal seperti kekaisaran romawi.. Sesaji harus disediakan & di letakan seperti layaknya preman yang intelek... Di hadapan rakyat hanya bisa janji janji manis.... Tak puas juga kah dihisap darah... Tak jera jugakah berbuat salah... Berputar-putar isi benakku tdk karuan... Tangan meninju dan mengepal kencang keatas.... Ingin sekali menghajar segala kekesalan... Yang menghinggapi rakyat kecil... Apa sebenarnya yang diinginkan sang penguasa Tahukah ke mana kita menuju?
PUISI : KAMBING HITAM
Noda noda hitam yang dipercikkan pada baju putih... Kini kami hanya bisa menuduhnya pada kau sang penguasa... Sebagai penanggungjawab semua dosa.... Kekotoran ini, kerusuhan yang juga melumuri wajah kami... Padahal kami juga yang bikin pesta... Bersamamu pula, bikin tari-tarian, lagu-lagu... Dan menyiramkan air comberan ke mana-mana... Biar semua kau yang menanggungnya... Karena tangan kami terlalu suci... Untuk menanggung dosa dari sebuah masa lalu sang tirani...
PUISI : NEGERI YANG MENANGIS
Beribu kata terlontar dari bibir yang gemetar.. Senja yang kau gugurkan dari tatapan.. Perlahan tumbuh menjadi nyala api... Anak-anak berpaling dari masa lalu... Betapa sunyi... Betapa senyap... Betapa menderitanya... Menyusuri nasib negeri sendiri.... Ada yang teramat sedih menderaskan airmata... Ada yang teramat marah... Memuntahkan api...kekesalan... “Kuasa!..Oh..Kuasa!” "Bagi sang penguasa" Dan aku menggigil Menuliskan: indonesia yang kaya akan alamnya, tapi tidak untuk kesejahteraan rakyat!
PUISI : NEGERI YANG PENUH INTIMIDASI DAN TEROR
Kau merasa bagaikan dinding yang mendengarkan setiap pembicaraan, Mata-mata yang selalu membayangi dan mengintai setiap gerak-gerik Sepertinya, telinga penguasa ada di mana-mana Menguping setiap obrolan-obrolan tentang keadilan, kemanusiaan & Kebenaran Ketakutan yang mencekam dan mengintimidasi Bagi yang berupaya mengungkap tabir tabir kebenaran Ditakuti oleh teror teros bom & pistol teracung menempel di jidatmu Seperti layaknya strategi intelijen Supaya makian & cacian yang mana hendak dimuntahkan Kepada siksaan penuh teror & intimidasi Akan selalu memasuki mimpi-mimpimu bila mengungkap kebenaran.
Demikian Ungkapan Puisi Aktivis Sang Pujangga atas penderitaan & kekecewaan rakyat.
Freedom for humanity, truth & justice, also be trusted.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar